Home / ekonomi / AS Sudah Informasikan Akan Menaikkan Tarif Sampai 25%

AS Sudah Informasikan Akan Menaikkan Tarif Sampai 25%

AS Sudah Informasikan Akan Menaikkan Tarif Sampai 25% – Harga minyak mentah Brent kuat tipis pada perdagangan Kamis (9/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipacu oleh pengakuan Presiden AS Donald Trump sehubungan peluang tidak untuk menaikkan tarif import produk China. Awalnya, investor kuatir jika tarif dipraktekkan akan menyeret perkembangan ekonomi serta memukul permintaam minyak.

Ditulis dari Reuters, Jumat (10/5), harga minyak mentah Brent pada penutupan perdagangan Kamis (9/5), naik tipis US$0,02 jadi US$70,39. Sepanjang session berjalan, harga Brent sudah sempat tertekan ke level US$69,4 per barel.

Disamping itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,42 jadi US$61,7 per barel.

Konflik dagang antara AS-China, yang disebut dua perekonomian dunia, serta anjloknya pasar modal global udah menghajar harga minyak. Efek ke-2 hal tersebut tambah besar dari tekanan geopolitik serta ketetapan pemangkasan suplai dari Amerika Latin, Afrika, serta Timur Tengah.

Harga minyak bangun dari level paling rendah sepanjang session perdagangan sesudah Trump mengatakan dia terima ‘surat yang indah’ dari Presiden China Xi Jinping. Dengan mencuplik surat itu dengan menyampaikan ”Mari bekerja sama-sama, silahkan kita lihat apa kita dapat menuntaskan suatu”.

Minggu ini, AS sudah sempat menginformasikan akan menaikkan tarif sampai 25 % pada produk import China sejumlah US$200 miliar pada Jumat ini apabila ke-2 negara tidak jua menggapai kata setuju. China udah meneror untuk lakukan balasan atau retaliasi yang menyebabkan investor mengubah asetnya ke asset yang beresiko rendah.

Direktur Kekuatan Berjangka Mizuho Bob Yawger menilainya surat itu memberikannya impian pada peluang AS serta China menggapai kesepahaman perdagangan.

Menurut Mitra Again Capital Management LLC John Kilduff konflik dagang AS-China udah menyeret perkembangan ekonomi di Asia. Apabila negosiasi ke-2 negara tidak sukses prediksi permohonan minyak global yang udah dibikin awalnya akan ditanyakan.

Tubuh Administrasi Kabar Kekuatan AS memprediksi permohonan minyak global dapat tumbuh 1,4 juta barel tahun ini.

“Itu penyebab Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dikit kikir untuk memasok minyak,” papar Kilduff.

Jadi catatan, OPEC serta sekutunya, termasuk juga Rusia, udah menjalankan ketetapan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel perhari (bph) sejak mulai awal Januari 2019 saat kemarin. Kesepahaman itu berlaku sepanjang 6 bulan serta akan dievaluasi pada pertemuan Juni 2019 waktu depan.

Sumber Reuters mengatakan Arab Saudi, produsen paling besar OPEC, ragu-ragu untuk meningkatkan suplai global sebab takut harga dapat anjlok. Bahkan juga, grup kartel OPEC pun tidak meyakini keadaan suplai global pada paruh ke-2 tahun ini.

Beberapa analis pun menilainya harga minyak pun mendapat dorongan dari pengenaan sangsi AS pada Venezuela serta Iran dan intimidasi pada suplai di Nigeria serta Venezuela. Hal tersebut kurangi efek dari konflik dagang AS-China.

Sejak mulai awal tahun harga Brent serta WTI udah kuat lebih dari 30 %.

“Ketidakpastian suplai yaitu yang meredam pasar (minyak AS) diatas US$60 per barel,” papar Pakar Siasat Pasar Senior RJO Futures Phillip Streible di Chicago.

Menurut Streible, ketidakpastian pasar yang menggerakkan harga ke area merah pada perdagangan tempo hari. Tapi, pasar bisa bertahan secara baik.

Di minggu awal ini, pasar mendapat surprise dari penurunan persediaan minyak mentah AS yang menaikkan harga.

About penulis77