Home / Uncategorized / Tewas Di Tembak Waktu Referendum Di Ibu Kota Karakas

Tewas Di Tembak Waktu Referendum Di Ibu Kota Karakas

Tewas Di Tembak Waktu Referendum Di Ibu Kota Karakas – Seseorang perawat wanita berumur 61 th. tewas karena ditembak waktu tunggu untuk memberi nada dalam referendum yg tidak resmi yang diadakan oposisi Venezuela di ibu kota Karakas.

Seperti ditulis NBC News, Senin 17 Juli 2017, beberapa pria dengan sepeda motor menembaki antrean beberapa pemilih, menewaskan wanita bernama Xiomara Soledad Scott serta melukai tiga orang yang lain. Media setempat memberikan laporan Soledad tewas lebih dari satu menit sesudah sampai dirumah sakit.

Wali kota oposisi di Karakas, Sucre, Carlos Ocariz, mengemukakan kalau grup paramiliter pro-pemerintah menyerang pemilih diluar Gereja Our Lady of Carmen sekitaran jam 3 Ahad sore.

Video yang diupload ke jejaring sosial tunjukkan kerumunan diluar gereja, lantas beberapa ratus orang berlarian cemas kedalam gereja waktu beberapa orang yang menunggang sepeda datang serta tembakan terdengar.

Juru bicara oposisi Carlos Ocariz mengemukakan, ” Kami mengutuk penembakan itu, dengan rasa sakit yang fantastis. ” Kejaksaan Venezuela berjanji mau menyelidiki insiden itu.

Wilayah Catia, tempat serangan berlangsung, adalah daerah pro-pemerintah di Caracas barat.

Maduro tidak mengatakan peristiwa itu dalam komentar di tv pemerintah sebentar sesudah penutupan resmi penentuan oposisi pada jam 4 sore, tetapi dia menyerukan disudahinya kekerasan yang dia salahkan kepada pihak oposisi.

” Saya memohon oposisi untuk kembali pada perdamaian, menghormati konstitusi, untuk duduk serta bicara, ” papar Maduro. ” Mari kita mengawali sesi baru perbincangan, dialog untuk perdamaian. “

Venezuela dalam krisis, serta lebih dari 100 orang tewas dalam benturan politik mulai sejak April sesudah krisis ekonomi karena jatuhnya harga minyak menghantam negara Amerika Selatan itu.

Kubu oposisi Venezuela juga menyelenggarakan referendum tidak resmi pada Ahad lantas untuk melawan Presiden Nicolas Maduro, menyusul unjuk rasa berdarah yang menewaskan nyaris 100 warga dalam tiga bln. paling akhir.

Ada 3 pertanyaan yang diserahkan pada beberapa pemilih. Mereka di tanyai apakah menampik majelis konstitusi, apakah mereka inginkan pasukan bersenjata untuk menjaga konstitusi yang ada, serta apakah mereka menginginkan Pemilu di gelar sebelumnya waktu jabatan Maduro selesai pada 2018.

Kesuksesan referendum simbolis oposisi mau diukur dengan jumlah juta-an yang berperan serta.

Persatuan Demokrat, satu koalisi dari sekitaran 20 partai oposisi, sudah cetak 14 juta nada untuk pemilih didalam serta diluar negara 31 juta orang, The Associated Press memberikan laporan.

Beberapa politisi oposisi mengatur telaah pendapat tidak resmi yang diselenggarakan ditempat pengambilan suara di bioskop, lapangan olah raga serta bundaran di Venezuela serta di lebih dari 100 negara di semua dunia.

Meski referendum ini cuma simbolis, tetapi analis mengemukakan kalau partisipasi lebih dari 8 juta orang mau dengan penting menghimpit pemerintah.

Tetapi Presiden Nicolas Maduro menyatakan referendum Ahad lantas jadi ” tidak artinya ” .

” Mereka sudah menghadirkan konsultasi internal dengan partai-partai oposisi, dengan mekanisme mereka sendiri, tanpa ada aturan penentuan, tanpa ada pembuktian terlebih dulu, tanpa ada pembuktian lebih jauh. Seolah mereka otonom serta memastikan sendiri, ” ujarnya.

Dengan terpisah, wartawan Luis Olavarrieta diculik, dirampok serta dipukuli oleh sekumpulan orang. Dia berhasil melarikan diri serta gambar tampil dari dia mendapatkan perhatian medis.

Maduro sendiri menjadwalkan referendum pada 30 Juli untuk satu majelis baru, yang mempunyai kapabilitas untuk menulis ulang konstitusi serta membubarkan institusi negara.

Maduro memiliki pendapat kalau majelis penyusun yaitu hanya satu langkah untuk menolong Venezuela menangani krisis ekonomi serta politiknya. Tetapi beberapa kritikus cemas majelis baru ini mau berikan kekuasaan berlebihan pada Maduro yang berbuntut pada kediktatoran.

About admin